Rusia Minta Iran Tahan Diri Produksi Logam Uranium

Redaksi


IDNBC.COM
- Rusia mendesak Iran menyatakan memulai program pengayaan logam uranium. Dalam laporan Badan Energi Atom Dunia (IAEA) disebutkan Iran bakal membuat logam uranium dari bahan mentah, dan kemudian akan diperkaya hingga 20 persen.


Iran dianggap melakukan pelanggaran baru dari batasan yang ditetapkan dalam kesepakatan nuklir Teheran dengan dunia.

"Kami memahami logika tindakan mereka dan alasan yang mendorong Iran. Meski demikian, perlu untuk menunjukkan pengendalian dan pendekatan yang bertanggung jawab," kata Wakil Menteri Luar Negeri Sergei Ryabkop kepada kantor berita RIA Novosti, dikutip dari AFP.

Kesepakatan penting yang berisi larangan 15 tahun untuk memproduksi atau memperoleh logam plutonium atau uranium atau campurannya.

Kesepakatan itu disepakati oleh Amerika Serikat, China, Jerman, Rusia, Perancis dan Inggris pada tahun 201

Ryabkob menyebut langkah Iran menunjukkan tindakan Teheran.

"Tekad untuk tidak menyerah dengan situasi sekarang."

Produksi logam uranium yang dilakukan Iran berpotensi kembali melanggar pakta pembatasan program nuklir yang disepakati pada 2015.

"Direktur Jenderal Rafael Mariani hari ini menyampaikan kabar kepada negara anggota IAEA tentang perkembangan terbaru mengenai program penelitian dan pengembangan produksi logam uranium untuk dijadikan bahan bakar bagi Reaktor Penelitian Teheran," demikian isi pernyataan IAEA, seperti dilansir Reuters.

"IAEA pada 8 Februari memverifikasi ada 3.8 gram logam uranium di Pabrik Pembuatan Logam Bahan Bakar di Esfahan," lanjut pernyataan IAEA.

Inggris, Jerman dan Prancis sebagai negara yang turut meneken perjanjian pembatasan nuklir 2015 menyatakan prihatin jika Iran tetap melanjutkan rencana membuat logam uranium. Sebab bahan itu dinilai tidak bermanfaat untuk kepentingan rakyat, dan rentan digunakan oleh militer untuk membuat hulu ledak nuklir.

Mantan Presiden Donald Trump pada 2018 lalu memutuskan untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran dan menerapkan kembali ekonomi yang melumpuhkan Teheran.

Pengganti Trump, Joe Biden tengah berusaha menghidupkan kembali perjanjian tersebut. Namun kedua belah pihak tampaknya mengalami kebuntuan mengenai siapa yang bertindak lebih dulu.

Pada November 2020 lalu, Iran menyatakan berjanji akan membalas kematian pakar nuklir mereka, Mohsen Fakhrizadeh, yang tewas dibunuh. Mereka menuduh Israel berada di balik peristiwa itu.

Iran juga menyatakan akan terus meningkatkan pengayaan nuklir mereka melewati batas yang ditetapkan dalam perjanjian nuklir 2015, sebagai tanggapan atas pemberian sanksi. Logam uranium menjadi masalah senitif lantaran digunakan sebagai komponen dalam pembuatan senjata nuklir.

Sumber https://m.cnnindonesia.com/internasional/20210211180538-134-605420/rusia-minta-iran-tahan-diri-produksi-logam-uranium




Comments