Ada yang Mau Jakarta Banjir, Kabel di Rumah Pompa Dukuh Atas Dipotong OTK

Admin


IDNBC.COM
- Aksi pemotongan kabel terjadi di Rumah Pompa Dukuh Atas, Jakarta Pusat (Jakpus). Akibatnya, pompa air di lokasi itu sempat tidak berfungsi. Padahal, keberadaan pompa itu untuk menyedot genangan jika intensitas hujan tinggi.


"Pompa enggak berfungsi, pas kita cek ternyata ada kabel yang dipotong, tapi enggak banyak," kata Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Jakpus Irwandi kepada Republika di Jakarta, Kamis (21/1).l


Kepala Polsek Tanah Abang, Kompol Singgih Hermawan, mengaku, mendapat informasi sejumlah kabel di Rumah Pompa Dukuh Atas dipotong orang tak dikenal. Pihaknya sudah mengerahkan anggota untuk membongkar kasus tersebut. "Kasus ini sedang diselidiki oleh anggota," kata Singgih.


Kanit Reskrim Polsek Tanah Abang, AKP Haris Ahmad, mengatakan, aksi pemotongan kabel itu terjadi pada Rabu (20/1) malam WIB. Saat itu, memang di kawasan rumah pompa yang terletak di perbatasan Kecamatan Tanah Abang dan Menteng itu sepi dari petugas. "Diduga terjadi tadi malam. Sekarang masih kita kembangkan lebih lanjut," kata Haris kepada Republika.


Irwandi menuturkan, peristiwa itu sebenarnya sudah berlalu atau terjadi pada pekan lalu. Meski begitu, ia tidak menjelaskan secara detail kapan tepatnya aksi orang tidak bertanggung jawab tersebut terjadi.


Dia hanya menegaskan, petugas telah memperbaiki kabel pompa yang dipotong itu tidak lama setelah sumber masalah pompa tak berfungsi diketahui. Setelah itu, pompa air di Dukuh Atas bisa difungsikan kembali.


Irwandi menyampaikan, jajarannya sudah melaporkan kasus itu ke polisi. Pemerintah Kota (Pemkot) Jakpus berharap, aparat penegak hukum dapat memburu dan meringkus pelaku. "Iya, pelakunya kita cari. Kita sudah koordinasi dengan polsek," ujarnya.


Irwandi menyebut, untuk mengantisipasi insiden serupa terulang di kemudian hari, petugas sudah diinstruksikan melakukan pengamanan rutin di Rumah Pompa Dukuh Atas. Pun dengan rumah pompa lain yang tersebar di Jakpus juga dibuat aturan yang sama demi menghindari tindakan sabotase.


Pihaknya juga siap meminta bantuan Satpol PP Jakpus dan personel TNI maupun Polri jika memang diperlukan. "Kita lakukan pengawasan rutin. Kita minta Satpol PP, bhabinkamtibmas, dan babinsa," tutur wakil wali kota Jakpus tersebut.


Belajar dari kejadian yang tak diinginkan itu, pemkot menginstruksikan pembuatan posko bersama tidak jauh dari Rumah Pompa Dukuh Atas. Sekretaris Kota (Sekko) Jakpus, Iqbal Akbarrudin, mengatakan, posko tersebut dibentuk guna mengantisipasi kerawanan yang terjadi di sekitar rumah pompa. Apalagi, sekarang musim hujan, sehingga rawan jika rumah pompa tidak diawasi.


"Kita buat posko Bersama, ada unsur (Sudin) Bina Marga, Sumber Daya Air, Satpol PP (Jakpus). Kecamatan dan kelurahan (ikut dikerahkan)," kata Iqbal.


Dia menyatakan, nantinya petugas dari berbagai instansi itu disiagakan di lokasi secara bergantian. Selain itu, pihaknya juga menyusun jadwal pengawasan secara bergilir supaya petugas di lapangan memiliki tanggung jawab. "Kita akan tanggulangi bersama, memastikan aset kita terjaga bersama. Menghindari potensi kerawanan," ucap Iqbal.


Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Dedi Supriadi menganggap, aksi pemotongan kabel di Rumah Pompa Dukuh Atas merupakan bentuk kejahatan serius. Dia mendesak Pemprov DKI untuk mengusut kasus itu dengan melibatkan kepolisian agar pelaku ditangkap.


"Pemprov mesti segera melaporkan ke aparat kepolisian untuk ditindaklanjuti. Karena berfungsinya pompa air merupakan hajat hidup orang banyak, utamanya warga DKI," kata Dedi.


Selain itu, menurut dia, Pemprov DKI juga perlu memperbanyak kamera pengawas atau CCTV di sekitar lokasi rumah pompa. Hal itu bertujuan untuk mengantisipasi insiden serupa terulang lagi. Pemasangan CCTV juga sekaligus mampu mendeteksi mereka yang berniat jahat di rumah pompa dan sekaligus alat bukti aparat untuk menindak pelaku.


"Pompa air adalah perangkat pengendalian banjir yang sangat penting. Ini masuk kategori objek vital yang perlu pengawasan 24 jam semestinya. Minimal adalah keberadaan kamera pengawas," ujar politikus PKS itu.


Anggota Komisi D DPRD DKI Judistira Hermawan pun mempertanyakan sistem pengawasan yang diterapkan di setiap rumah pompa yang ada di Ibu Kota. Dia meminta Pemprov DKI memperketat penjagaan di rumah pompa.


"Yang jadi pertanyaan kok bisa ada terjadi pemotongan kabel itu? Bagaimana pengawasan dinas terhadap rumah pompa ini?" kata Judistira.


Menurut dia, pompa air merupakan alat vital untuk mencegah banjir. Oleh karena itu, Judistira menegaskan, perlu adanya pengawasan yang lebih baik di seluruh rumah pompa untuk mengantisipasi hal serupa kembali terjadi.


Dia menuturkan, salah satunya adalah memperbanyak kamera pengawas atau CCTV di masing-masing lokasi rumah pompa. "Saya kira, perlu pengawasan lebih baik di semua rumah pompa ke depannya. Perbanyak CCTV dan tempatkan petugas lapangan bergiliran," ujar politikus Partai Golkar itu.


Dia mendesak Pemprov DKI Jakarta untuk segera melaporkan kasus pemotongan kabel pompa air tersebut kepada polisi. Sebab, ia menilai, aksi itu merupakan suatu tindak pidana. "Sebaiknya Pemprov DKI Jakarta lapor ke kepolisian tentang ini karena apa pun ini jelas pidana," ucapnya.


Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Zita Anjani. Ia mengatakan, peristiwa pemotongan kabel pompa air itu harus dibawa ke ranah hukum. "Ya perbuatan yang tidak terpuji. Harus diusut tuntas oleh yang berwenang," tutur politikus PAN tersebut.


Zita menjelaskan, keselamatan warga Ibu Kota merupakan hal nomor satu. Sehingga, jika pompa air tidak berfungsi lantaran kabelnya dipotong oleh orang tak bertanggung jawab, dapat membahayakan nyawa warga saat banjir terjadi.


"Keselamatan warga kan nomor satu, kalau sampai itu pompa mati dan jadinya banjir dan mengancam nyawa warga, sangat bahaya," jelasnya.


Sumber https://www.republika.co.id/berita/qnb65f484/sabotase-di-rumah-pompa-dukuh-atas-dilakukan-malam-hari





Comments