Tweet Lawas Terkait Pasal Kasus Bisa Dibeli, Tengku: Ngeri! Betul ini Pak Mahfud yang Nulis?

Redaksi


IDNBC.COM
- Selasa sore ini, Tengku Zulkarnain mengunggah sesuatu di laman media sosialnya terkait jejak digital lawas milik Mahfud MD.


Adapun unggahan tersebut berbentuk sebuah tangkapan layar cuitan lawas Mahfud perihal hukum yang katanya bisa dibeli.

Dalam unggahan Zul itu, cuitan Mahfud tersebut diudarakan sekitar tiga tahun yang lalu, tepatnya pada 9 November 2017.

“Setiap kasus bs dicari pasal benar atau salahnya mnrt hukum. Tinggal siapa yg lihai mencari atau membeli. Intelektual tukang bs mencarikan pasal2 sesuai dgn pesanan dan bayarannya,” bunyi tweet lawas Mahfud MD.

Oleh karena itu, Tengku Zul pun tampak heran dan bahkan mempertanyakan langsung hal tersebut dengan me-mention akun Twitter Mahfud MD. 

“Ngeri saya jika membayangkan isi twit yg ini,” buka Tengku Zul pada hari Selasa, 23 Maret 2021, dikutip terkini.id via Twitter.

“Apa betul twit ini pak @mohmahfudmd yang nulisnya…?” tanyanya lagi. 

“Saya tanya dan minta jawabannya,” tegasnya.

“Kalau jawabannya “iya”, biar saya sedikit bisa menyelami keadaan sekarang jika terlihat timpang di mata. Terima kasih,” pungkas Tengku Zul. 

Kontan kolom komentar tampak dipenuhi dengan beragam opini netizen terkait “penemuan” Tengku Zulkarnain tersebut. 

“Ini jejak digital yg tidak akan pernah hilang yg bikin pak Mahfud jadi idola saya karena beliau orang jujur,” tutur akun @ganefri63 yang justru mengaku tetap mengidolakan Mahfud lantaran dianggap jujur karena hingga saat ini bahkan tak menghapus jejak digital lawasnya.

Namun, ada pula netizen yang beranggapan bahwa Mahfud MD memang orang yang baik dan “lurus”. Hanya saja, itu dulu.

“Beliau ini @mohmahfudmd dulunya orang baik dan lurus..tapi sekarang tidak lagi…mungkin beliau lupa berdoa agar tetap lurus meski diberi jabatan…musibah bagi mahpud,” balas akun @adanramma.

Sumber https://makassar.terkini.id/unggah-tweet-lawas-mahfud-terkait-pasal-bisa-dibeli-tengku-zulkarnain-ngeri-betul-ini-yang-nulis-bapak/



Comments